Bila Enkau Hidup Hari ini, Jangan Menunggu Hari Esok Untuk Beribadah, Karena ajal/kematian Akan Memjemputmu Kapan saja, Tanpa Disangka-sangka

Minggu, 06 November 2011

Sang Pemimpi Menuju Impian



Saaya adalah sang pemimpi yang mempunyai karakter tidak gampang menyerah. Dilahirkan di Kec. Karossa Kab. Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), anak keempat dari tujuh bersaudara, serta hanya saya yang bisa menginjakkan kaki di Perguruan Tinggi. Kadang orang memanggilku Hadi ada juga yang memanggilku Sukma dan itu tak masalah bagiku, nama lengkapku Sukmahadi.

Jika mengingat masa lalu mungkin saya tak sanggup membayangkan betapa susahnya duduk di bangku sekolah di tengah himpitan  ekonomi hingga meraih beasiswa ke Luar Negeri. Berikut langkah ceritaku dimulai menuju impian di tanah Negeri Seribu Benteng, Maroko.

          Masih sangat teringat dalam memoriku, betapa banyak sekolah yang saya duduki selama menempuh studi, dari sekolah ke sekolah yang lain. Sekolah Dasar (SD) saja saya harus menduduki 5 sekolah. Ini terjadi karena orang tua selalu hijrah dari desa ke desa yang lain agar bisa menafkahi anak-anaknya,  mereka rela bercocok tanam (bertani) dari tanah milik sendiri sampai menggarap tanah milik orang lain. Sulawesi Barat, provinsi ini terdapat berbagai macam suku, ras, bahasa, diistilahkan dalam ilmu sosiologi multikultural, bahkan masih banyak hutan rimba yang belum terkelola. Saya dan adik-adikku setiap hari menempuh hutan rimba yang kadang terjatuh dari sepeda kerena jalannya penuh dengan rumput ditambah lagi ukurannya yang sangat kecil selebar 15 cm maklum  jalan menuju ke kebun, sebab kami tinggal di sebuah gubuk jarak perjalanan kami menuju desa (ke sekolah) sekitar 10 KM. Namun waktu demi waktu roda kehidupan berjalan, dan Alhamdulillah pada tahun 2002 penulis berhasil menyelesaikan sekolah dasar.

                Niat penulis sangat kuat untuk melanjutkan studi, namun takdir berkata lain, tahun 2002 terjadi perang suku, sebut saja suku Mandar dan Palopo sebagian rumah-rumah keluarga kami ikut menjadi pembakaran amuk massa. Dengan musibah ini kami pindah ke Kab. Polewali Mandar masih dalam kawasan Sulbar, jarak Kab. Mamuju (tempat kami tinggal) menuju Kab. Polewali Mandar sekitar 8  jam dengan menggunakan Bus. Ayah dan ibu sudah kewalahan mencari nafkah, untungnya masih banyak keluarga kerabat yang baik hati membantu di Kabupaten ini sebab kabupaten ini merupakan tanah kelahiran ayah, dengan demikian ayah memilih menjadi pembuat gula aren kata wong jowo (orang jawa) gula merah dalam bahasa Indonesia. Sebagai dampak musibah ini saya tidak bisa melanjutkan studi ke jenjang madrasah tsanawiyah (SMP) disebabkan himpitan ekonomi. Selama setahun penulis hanya bisa membantu profesi orang tua membuat  gula aren.

                Di tahun 2003 terdengar kabar bahwa ada sebuah yayasan pesantren yang baru saja berdiri dan mambutuhkan santri secara cuma-cuma alias gratis, sebut saja Pondok pesantren Al-Ihsan Kenje Kab. Polewali Mandar. Hati dan jiwa raga ini bahagia dan gembira akhirnya saya bisa melanjutkan studi. Di sekolah inilah saya dididik oleh seorang kyai pimpinan pondok. Seiring berjalannya waktu usiaku semakin bertambah membuatku selalu berpikir dewasa bagaimana meraih prestasi yang memuaskan. Kata bang haji Rhoma Irama ‘’darah mudah darah berapi-api”, sudah dua tahun penulis duduk di ponpes ini namun tidak merasa puas dengan apa yang saya dapat sehingga memutuskan untuk pindah dari satu pondok ke pondok yang lain tanpa sepengetahuan orang tua sebab orang tua hanya tahu bahwa anaknya sekolah tanpa mereka tahu dia butuh apa dan di mana dia sekolah? Hingga suatu ketika ibu menyusuri sebuah kecamatan di mana terdapat  banyak ponpes di kecamatan tersebut pada ahirnya ibu tercinta berhasil menemukanku pada pesantren terakhir yang beliau cari.

                Allah SWT berfirman: ‘’Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah SWT akan selalu memberikan baginya keringanan/jalan keluar’’(Ath-thalaq ayat 2-3). Dalil ini selalu menguatkan hatiku untuk selalu semangat dalam menuntut ilmu, sebab saya yakin bahwa selama seorang hamba beriman kepada Allah SWT dan senantiasa menuntut ilmu syariat islam Insya Allah hamba itu akan selalu menemukan jalan keluar. Di tingkat madrasah tsanawiyah (SMP), lagi-lagi saya menginjakkan kaki di 3 sekolah: Ponpes Al-Ihsan, Ponpes Syekh Hasan Yamani, dan Ponpes As-Salafiyah Parappe. Kali ini terjadi karena saya ingin tahu kelebihan-kelebihan satu pesantren dengan lainnya, atas keinginan saya bukan kehendak orang tua. Pernah suatu ketika di ponpes bahan sandang panganku sudah ludes habis, untungnya ada teman yang baik hati senang berbagi denganku. Pada tahun 2006 Syukur Alhamdulillah akhirnya saya selesai juga dengan penuh perjuangan.
               
                Tibalah saatnya untuk melanjutkan studi ke SMA/MA. Dengan dasar-dasar bahasa Arab yang sudah saya pelajari selama di pondok, alhamdulillah penulis diberi kepercayaan untuk ikut membina para santri di Ponpes Al-Ihsan. Dengan demikian saya harus pintar-pintar membagi waktu sebab statusku masih sebagai siswa di Madrasah Aliyah (MA) Pergis Camapalagain Sulbar. Tepatnya kelas dua, disinilah saya mempunyai keinginan kuat untuk menempuh studi kuliah ke luar negeri setelah tamat SMA nanti. Itulah pribadiku selalu berencana walaupun waktunya masih lama. Pengalaman selama studi hidupku yang selalu mandiri mendorongku selalu bersemangat menabung agar suatu ketika peluang cita-cita itu sudah di ambang pintu saya tidak kewalahan lagi mencari uang. Sejak kelas dua MA sudah mulai menabung demi mencapai cita-citaku yang tinggi.

                Di tahun 2009 ahirnya aku tamat (selesai) dari MA. Pergis Campalagian Sulbar, disinilah seakan-akan menemukan jalan buntu sebab informasi tentang beasiswa studi ke luar negeri sangat jarang, maklum saat itu Sulbar masih belum terjangkau internet. Jangankan internet, sebagian kabupaten saja masih banyak yang belum menikmati listrik. Informasi yang masih sangat susah diakses membuatku bertanya-tanya ke sana kemari, pada akhirnya saya menemukan seorang alumni Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir. Beliau sangat banyak memberiku informasi tentang Beasiswa Studi ke Luar Negeri khususnya Mesir. Namun rupanya Allah berkehendak lain, saat itu tes untuk beasiswa ke Al-Azhar Cairo diadakan di Kedutaan Besar Mesir di Jakarta sedangkan aku tak punya duit untuk ke Jakarta. Beberapa bulan kemudian ada ajakan dari teman bahwa walaupun belum memperoleh beasiswa, namun jika kita bisa meraih  prestasi yang memuaskan di Al-Azhar insya Allah bisa meraih beasiswa setelah tiba di sana, kata teman yang paling terpenting sekarang kita harus ikut tes ujian di UIN Alauddin Makassar! Hari ‘’H’’ tes tiba, terpikir olehku walaupun saya lulus tes nonbeasiswa ke mesir lalu dari mana biaya tiket ke sananya? lagi-lagi hatiku menangis sangat ingin meraih cita-cita studi ke luar negeri namun tak punya modal. Namun dalam qolbuku yang paling dalam saya yakin Allah tidak buta, Allah maha kaya dan semua ini ada hikmahnya.

                Terbukti walaupun saya tidak jadi ke Al-Azhar Cairo, Alhamdulillah penulis termasuk siswa yang meraih prestasi selama di MA. Pergis Campalagain. Dengan prestasi itulah seorang pengasuh Madrasah tersebut yang mempunyai hati yang dermawan rela memberiku sebagian rezekinya agar aku gunakan kuliah di UIN Alauddin Makassar. Walaupun kadang jauh dari cukup tapi Syukur Alhamdulillah saya masih bisa berusaha menutupi kekurangan itu. Semua ini penulis menempuhnya dengan penuh kemadirian dan mengharap ridho dari orang tua.

                Bulan demi bulan hingga cukuplah setahun saya kuliah di UIN Alauddin Makassar dengan jurusan Sastra Arab, hati ini tak tenang dan tidak merasa puas jika mimpi-mimpiku tak tercapai. Kota Makassar yang ada di Sulsel  merupakan kota yang sangat indah, ramai, gedung-gedung tinggi menghiasi kota ini otomatis informasi sudah sangat gampang diakses, akhirnya di tahun 2010 saya memperoleh beberapa informasi Beasiswa ke timur tengah diantaranya Libya yang dipegang oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), beasiswa  Arab Saudi, Sudan dan Maroko. Negara Libya misalnya saya berusaha mendapatkan  rekomendasi dari dua Oraganisasi NU dan Muhammadiyah namun lagi-lagi tesnya diadakan di Jakarta, Beasiswa Arab Saudi misalnya saya mencoba mengirim berkas ke Universitas Islam Madinah namun tak ada jawaban, Beasiswa Sudan Alhamdulillah tes beasiswa Sudan diadakan di UIN Alauddin Makassar tempat saya kuliah. Nah, ini yang saya tunggu-tunggu dengan penuh kegembiraan, semangat, penulis ikut ujian tersebut yang tim pengujinya langsung dari Kedutaan Besar Sudan di Jakarta. Menurut keputusan panitia pengumuman kelulusan akan diumumkan sekitar sebulan setelah tes namun sampai dua bulan hasil tak kunjung keluar juga, itulah sebabnya saya selalu tak mau ketinggalan mengecek di situs Kementerian Agama www.ditpertais.net. Disela-sela pengecekan tersebut tawaran beasiswa Maroko Afrika utara muncul di situs ini, terbenak dalam pikiranku bahwa kesempatan ini tak boleh disia-siakan. Akhirnya saya mendaftarkan diri untuk meraih beasiswa itu.

                Walhasil tepat bulan puasa 2010 sebelum tidur tiba-tiba handphoneku berdering. Sebuah pesan dari salah satu pegawai kementerian Agama RI atas nama Bpk. Bil Bachtiar, Lc, MA. Menyatakan saya lulus, meraih dua beasiswa: Sudan dan Maroko, Alhamdulillaaah!  Kini kegelisahan lain datang menghampiri, bahkan sempat meneteskan air mata dihadapan seorang guru: “Bagaimana caranya saya agar bisa sampai ke ibu kota, Jakarta, karena beasiswa tersebut tidak menanggungnya?

                Saya adalah sang pemimpi yang tidak gampang menyerah, Alhamdulillah saya berjuang mondar mandir ke sana ke mari mengajukan berbagai macam  proposal ke berbagai instansi pemerintah di antaranya: Kantor Bupati Polewali Mandar Sulbar, BAZDA (Badan Amil Zakat) Kab. Polewali Mandar, BAZDA Kab. Majene, Kantor Gubernur Sulawesi Barat, bahkan sempat mengirim proposal ke Dhompet Dhuafa dan Rumah Zakat di Jakarta. Namun tak semua instansi yang saya datangi membuahkan hasil yang memuaskan bahkan ada yang menolak. Walaupun demikian saya tetap bersyukur karena BAZDA Kab. Polewali Mandar mengabulkan permohonanku, itulah yang saya gunakan sehingga saat ini penulis sedang menjalani mimpinya dengan semagat menempuh studi di luar negeri tepatnya di Maroko-Afrika utara, yang sebelumnya juga dinyatakan lulus meraih beasiswa Sudan.

                Kini penulis sekarang sedang menikmati betapa indahnya menuntut ilmu di Negara arab, namun disisi lain masih dihantui perasaan sedih sebab ayah telah kembali Ke Rahamtullah sebulan setelah saya tiba di Maroko, sampai saat inipun jasad apalagi kuburan beliau belum sempat saya lihat……’’’YA Allah Mudahkanlah segala urusanku agar hamba cepat balik ke kampung halaman dengan membawa segudang ilmu serta melihat kuburan sang ayah tercinta’’
“BERMIMPILAH DAN JANGAN ADA RASA PUTUS ASA DALAM MENGGAPAI MIMPI ITU’’
‘’GANTUNGKAN CITA-CITAMU SETINGGI LANGIT’’
Hanya kepada Alloh-lah penulis mengharapkan ridlo dan maghfirah serta ridho dan do’a dari kedua orang tua.
 Insya Allah Tulisan ini diterbitkan menjadi sebuah buku, bersama kisah para peraih beasiswa dunia, mudah-mudahan bermamfaat untuk putra-putri indonesia dalam meraih mimpi. Silahkan miliki bukunya, terbit bulan juni 2012.

*Sekarang penulis terdaftar sebagai Mahasiswa di Universitas Sidi Mohammed Ben Abdellah, Fes-Maroko, Jurusan Studi Islam. E-mail : afikrihaditomandar@yahoo.com

Comments

2 komentar:

tulisAN ini dimuat juga di situs: http://motivasibeasiswa.org/2011/09/sukmahadi-kisah-anak-pelosok-desa-sulawesi-meraih-beasiswa-2-negara/

dan di situs PPI Maroko: http://www.ppimaroko.org/index.php?option=com_content&view=article&id=158:sang-pemimpi-menuju-impian&catid=56:opini&Itemid=86

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More